.

Senin, 20 Juni 2016

INFLASI DAN PENGANGGURAN

Inflasi  merupakan keadaan dimana kenaikan harga barang dan atau jasa yang berlaku secara umum dan terus – menerus sehingga mengakibatkan daya beli masyarakat menurun. Inflasi merupakan permasalahan ekonomi  yang sangat melekat pada setiap negara yang ada didunia ini.
Pada dasarnya inflasi bukanlah hal yang selalu tidak diharapkan, jika suatu negara dapat ‘mengolah’ inflasi dengan baik maka keuntunganpun juga bisa didapat, sebab inflasi suatu negara dengan tingkat kurang dari 4%  mampu memicu pertumbuhan penawaran agregat, karena kenaikan harga akan mendorong produsen untuk meningkatkan outputnya. Namun jika inflasi dibiarkan begitu saja maka beberapa masalah akan muncul antara lain melambatnya pertumbuhan ekonomi, berkurangny gairah investor dalam menanam modal pada negara tersebut, pendapatan riil yang merosot, kesenjangan distribusi pendapatan dan lain-lain.
Pengangguran adalah suatu kondisi di mana orang tidak dapat bekerja, karena tidak tersedianya lapangan pekerjaan. Masalah ekonomi makro satu inilah yang paling sering dijumpai terutama pada negara berkembang, di Indonesia misalnya. Sehingga tidak diherankan apabila setiap tahunnya negara ini selalu mengalami peningkatan “sumbangan pengangguran”. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya. Adapun secara umum penyebab pengangguran itu terjadi, antara lain karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang ada yang mampu menyerapnya.
Dalam jangka pendek, kenaikan tingkat inflasi menunjukkan pertumbuhan perekonomian, namun dalam jangka panjang, tingkat inflasi yang tinggi dapat memberikan dampak yang buruk. Tingginya tingkat inflasi menyebabkan harga barang domestik relatif lebih mahal dibanding dengan harga barang impor.
Masyarakat terdorong untuk membeli barang impor yang relatif lebih murah. Harga yang lebih mahal menyebabkan turunya daya saing barang domestik di pasar internasional. Hal ini berdampak pada nilai ekspor cenderung turun, sebaliknya nilai impor cenderung naik.
Kurang bersaingnya harga barang jasa domestik menyebabkan rendahnya permintaan terhadap produk dalam negeri. Produksi menjadi dikurangi. Sejumlah pengusaha akan mengurangi produksi. Produksi berkurang akan menyebabkan sejumlah pekerja kehilangan pekerjaan.
Para ekonomi berpendapat bahwa tingkat inflasi yang terlalu tinggi merupakan indikasi awal memburuknya perekonomian suatu negara. Tingkat inflasi yang tinggi dapat mendorong Bank Sentral menaikkan tingkat bunga. Hal ini menyebabkan terjadinya kontraksi atau pertumbuhan negatif di sektor riil
Dampak yang lebih jauh adalah pengangguran menjadi semakin tinggi. Dengan demikian, tingkat inflasi dan tingkat pengangguran merupakan dua parameter yang dapat digunakan untuk mengukur baik buruknya kesehatan ekonomi yang dihadapi suatu negara.
Hubungan antara tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran untuk jangka pendek dapat dijelaskan dengan menggunakan Kurva Phillip yang dikemukakan oleh ekonom bernama A.W. Phillips.
Kurva ini digunakan oleh Phillips ketika melakukan pengamatan terhadap korelasi antara pengangguran dengan upah dan inflasi di negara Inggris. Hubungan tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran yang merepresentasikan Kurva Phillips dapat dilihat pada gambar di bawah
Dari Gambar 1 diketahui bahwa tingkat inflasi dan tingkat pengangguran memiliki hubungan yang negatif. Artinya jika tingkat inflasi tinggi, maka pengangguran akan menjadi rendah. Atau sebaliknya, penganggguran akan menjadi tinggi jika perekonomian suatu negara mengalami inflasi yang rendah.
Gambar 1 menunjukkan kurva Phillip untuk negara Amerika Serikat pada kurun waktu dari Januari 2008 sampai dengan Oktober 2009. Karena kedua variabel ekonomi ini memiliki hubungan yang negatif, maka usaha untuk menurunkan tingkat inflasi , dapat menimbulkan peningkatan pengangguran.

Kesimpulan
Menurut pembahasan dalam karya ilmiah diatas, setelah penulis membandingkan mengenai pola hubungan antara inflasi dan pengangguran di Indonesia dengan teori Phillips yang dikemukakan oleh A.W Phillips , hasilnya tidak dapat dikaitkan ataupun dihubungkan dengan teori tersebut. Artinya, teori Phillips tidak berlaku di negara-negara berkembang terutama untuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena Phillips menggunakan asumsi untuk teorinya bahwa inflasi sangat dipengaruhi oleh agregat demand atau permintaan agregat, padahal di negara – negara berkembang, utamanya Indonesia inflasi lebih dipengaruhi oleh biaya produksi. Jika menurut Phillips saat teradi inflasi, perusahaan akan berupaya meningkatkan outputnya demi memenuhi kebutuhan pasar, asumsi agregat demand, sehingga perusahaan akan berupaya meningkatkan sumber daya atau tenaga kerja demi memenuhi kebutuhan masyarakat, akibatnya pengangguran kian menurun, karena dianggap dalam jangka pendek nilai nominal yang dibayarkan perusahaaan kepada tenaga kerja meskipun tetap  namun nilai riil upah yang dibayarfkan tersebut menurun.
Akan tetapi berbeda dengan Indonesia, seperti yang disebutkan di atas, inflasi terjadi karena menigkatnya biaya produksi, sehingga secara tidak langsung harga bahan untuk memenuhi output atau permintaan pasar juga meningkat, sehingga perusahaan akan berupaya menekan biaya produksi guna efisiensi perusahaan, akibatnya demi menjaga efisiensi tersebut salah satu langkah yang bisa ditempuh oleh perusahaan adalah mengurangi tenaga kerja dan mengganti dengan mesin, sehingga biaya yang dianggarkapun juga berkurang, dalam artian perusahaan harus mengurangi tenaga keranya dengan cara mem PHK. Namun hal ini tidak dapat diartikan, bahwa di Indonesia hubungan antara inflasi dan pengangguran adalah positip, sebab dalam kenyataannya di Indonesia tidak ada hubungan yang pasti antara inflasi dan pengangguran.

Kritik
Kritik ditujukan untuk pemnerintah yang seharusnya mampu mencari hubungan atau korelasi antara beberapa komponen  yang berkaitan dengan pengangguran, sehingga nantinya dapat dijadika acuan untuk pemerintah pada khususnya guna menanggulangi pengangguran.
Saran
Saran ditujukan tidak hanya pada pemerintah, tetapi juga pada para mahasiswa pada umumnya, dan mahasiswa Ekonomi pada khususnya yang dianggap sebagai calon penerus bangsa, dan juga sebagai Social Control agar setiap periode mengkaji hubungan antara komponen-komponen yang terkait antara pengangguran, sehingga pola antara indikator tersebut dapat terbaca untuk bisa membantu langkah-langkah yang perlu di ambil oleh pemerintah guna mengatasi pengangguran dan inflasi.

http://melindaalvionita.blogspot.co.id/2015/03/pengaruh-inflasi-terhadap-pengangguran_23.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.