.

Selasa, 18 April 2017

Masalah Ekonomi yang Dihadapi Provinsi Jawa Timur

Mind Map Masalah Ekonomi yang dihadapi Provinsi Jawa Timur dari Tahun 2012 sampai Tahun 2016
@B18-Edi

Masalah Ekonomi Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2012

Bila ditinjau dari tingkat pertumbuhan PDRB Jawa Timur, maka di balik tingkat pertumbuhahan di atas 7%, bisa dicatat bahwa:  


1. Hal yang sangat penting mendapatkan perhatian sampai Tahun 2012 adalah bahwa pertumbuhan sektor pertanian  hanya 3%, sebagai konstributor 15,42% PDRB, dan tempat bernaung sebagian besar tenaga kerja jawa timur, tertinggal dengan pertumbuhan sektor-sektor PDRB yang lain.  

2. Pertumbuhan sektor-sektor Perdagangan, Hotel, Restoran, Komunikasi dan Angkutan dan Keuangan, sewa dan Jasa perusahaan sangat mendongkrak capaian pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sampai 2012. Namun kita mengetahui bahwa pertumbuhan yang tinggi pada ketiga sektor tersebut tidak bisa diklaim begitu saja menjadi hasil langsung peran kebijakan pemerintah daerah. Artinya, jika pertumbuhan tiga sektor ini bagus, tidak lantas bisa disimpulkan peranan pemerintah provinsi telah optimal. Progresifitas pertumbuhan ketiga sektor tersebut diyakini lebih banyak berbasis inisiatif kalangan swasta (private), kondisi ekonomi/pasar nasional/global, dan dukungan perbankan. Kalau pun dampak intervensi kebijakan, namun level kebijakannya dominan dari  pemerintah pusat daripada hasil kebijakan Pemprov Jawa Timur. 

3. Meskipun secara struktur ekonomi Jawa Timur masih menempatkan sektor pertanian yang berkontribusi 15,4% persen dari total PDRB, sebagai salah satu dari 3 sektor utama, namun pertumbuhan sektor pertanian rata-rata paling rendah dibanding pertumbuhan seluruh sektor lain. Sementara sektor lain yang lebih didorong oleh perkembangan kinerja swasta tumbuh cukup tinggi. Seperti sektor industri pengolahan, dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (30%) tumbuh 9,81 persen. 

4. Kenyataan rendahnya pertumbuhan sektor pertanian bisa menjadi  dasar pertanyaan atas efektifitas program-program berbasis penanggulangan kemiskinan pedesaan Pemprov Jatim selama ini. Setidaknya setelah dicanangkan adanya pemberian fasilitasi bantuan sarana produksi pertanian dan pengelolaan pasca panen, peningkatan akses pembiayaan bagi UMKM dan Koperasi melalui Jamkrida, maka harus pula dilihat efektifitasnya bagi pengentasan kemiskinan di pedesaan. 

5. Berdasarkan lokasi penduduk, jumlah penduduk miskin di wilayah pedesaan yang jauh lebih besar dibandingkan di wilayah perkotaan.  Hal tersebut menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi Jawa Timur cukup tinggi sampai tahun2012, namun hal ini masih belum dirasakan dampaknya oleh rumah tangga pedesaan. Sebagaimana grafik di bawah ini, terbukti bahwa pertumbuhan ekonomi malah memperlebar jurang kesenjangan penguasaan sumberdaya ekonomi antar lapisan masyarakat di Jawa Timur.

Masalah Ekonomi Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2013 

Identifikasi Dini Pergeseran Ekonomi Sektoral di Jawa Timur

Perekonomian Jawa Timur mengalami pergeseran dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir. Perekonomian tahun 1993 didominasi oleh sektor industri pengolahan yang memiliki share sebesar 30,67% , diikuti oleh sektor pertanian 26,28%, dan sektor PHR sebesar 25,40%. Dua puluh tahun kemudian, pada tahun 2013, terjadi pergeseran sektor ekonomi yang ditunjukkan oleh penurunan share industri pengolahan dan pertanian. Share kedua sektor tersebut menurun masing-masing menjadi 26,60% dan 14,91%. Sementara itu, share sektor PHR justru mengalami peningkatan yang relatif signifikandi level 31,34%. Penurunan share sektor pertanian terjadi seiring dengan semakin tingginya alih fungsi lahan dari lahan persawahan dan perkebunan yang ditransformasi menjadi areal perumahan, industri dan infrastruktur pemerintah. Selain itu, return yang rendah di sektor ini menurunkan inisiatif pekerja, sehingga jumlah rumah tangga petani pun mengalami penurunan.

Masalah Ekonomi Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2014

Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2014

Secara keseluruhan diperkirakan pertumbuhan ekonomi Jatim tahun 2014 mencapai 5,70%-6,10%, cenderung melambat dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 6,55%. Pertumbuhan ini diyakini masih yang tertinggi dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa.

Dari sisi permintaan, hampir seluruh komponen permintaan mengalami perlambatan, kecuali konsumsi rumah tangga yang diperkirakan masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Secara keseluruhan, di tahun 2014, kinerja perdagangan Jawa Timur mengalami kontraksi seiring dengan perlambatan kinerja ekspor mineral akibat pemberlakuan UU Minerba. Tantangan ke depan yang harus dihadapi Jawa timur adalah pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Komoditas unggulan Jawa Timur diharapkan mampu bersaing dengan komoditas ASEAN baik secara kualitas maupun harga. Teknologi yang tepat guna serta efisiensi produksi diharapkan menjadi langkah strategis Jawa Timur dalam menjawab kebutuhan masyarakat pada high teknologi goods.

Di sisi penawaran, pendorong utama perbaikan ekonomi Jatim berasal dari sektor utama, Industri Pengolahan dan sektor pendukung (Listrik Gas Air bersih dan Jasa-jasa), dan sektor pertanian. Industri Jawa Timur yang menjadi backbone industri nasional menyumbang pertumbuhan ekonomi di tahun 2014. Tingginya tekanan industri pengolahan di tahun 2014 mewarnai kinerja industri pengolahan. Kenaikan UMK, kenaikan tarif listrik serta rencana peningkatan harga BBM berpengaruh pada kinerja perekonomian Jawa Timur di tahun ini. Tekanan juga terjadi di sektor keuangan, tren pengetatan kredit di Jawa Timur juga menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja sektor keuangan. Sementara itu, sektor pertanian hingga akhir tahun 2014 tidak signifikan terpengaruh oleh adanya Nino. Efisiensi waduk dan irigasi serta penganekaragaman komoditas yang ditanam menjadi salah satu faktor yang menahan penurunan produksi tanaman pangan.

Masalah Ekonomi Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2015


Asesmen Inflasi

Inflasi Jawa Timur pada triwulan II 2015 sebesar 6,78% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (6,07%), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (7,26%). Penyumbang utama inflasi pada triwulan II 2015 berasal dari kelompok core inflation (3,38%-yoy) disusul oleh administered price (2,35%) dan terendah volatile food (1,05%). Sementara tekanan inflasi terbesar berasal dari administered price (12,71%-yoy), disusul oleh volatile food (5,95%) dan terendah core inflation (5,54%).

Tingginya inflasi kelompok administered price (yoy) disebabkan kenaikan beberapa tarif energi selama 1 (satu) tahun terakhir yaitu tarif listrik, bensin dan bahan bakar rumah tangga, serta kenaikan tarif angkutan merespon perubahan harga energi dan tingginya permintaan masyarakat khususnya tarif kereta api, angkutan dalam kota dan angkutan udara. Inflasi kelompok volatile food dipicu oleh kenaikan harga sub kelompok padi-padian disebabkan pergeseran panen dari triwulan I-2015 ke triwulan II-2015 yang sempat meningkatkan harga beras dan sub kelompok telur karena tingginya permintaan memenuhi makanan jadi menjelang Ramadhan dan Lebaran. Sementara inflasi kelompok core inflation utamanya disebabkan dampak lanjutan kebijakan administered, seperti kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota terhadap upah dan penyesuaian tarif listrik terhadap kenaikan sewa rumah.

Secara spasial Jawa, inflasi Jawa Timur menempati urutan ketiga tertinggi setelah Banten (8,91%) dan DKI Jakarta (7,59%), disusul dengan Jawa Barat (6,51%), Jawa Tengah (6,15%) dan terendah DIY (5,68%). 

Masalah Ekonomi Provinsi Jawa Timur pada Tahun 2016

 "Masalah utama kita adalah daya saing. Di bidang industri misalnya, perlu ada revitalisasi mesin. Pada umumnya, industri besar maupun kecil menggunakan mesin-mesin yang sudah kedaluwarsa, sehingga packaging kurang menarik dan bisa kalah bersaing dengan produk lain," paparnya.

"Ke depan, kita akan menggenjot realisasi investasi. Makanya pak gubernur berkeliling (ke negara lain) untuk menggaet investor," jelasnya.

Gus Ipul optimis, pertumbuhan ekonomi di Tahun 2017 akan mengalami peningkatan hingga menembus 5,7 persen.

"Sekarang pertumbuhan ekonomi kita 5,5 persen. Ke depan kita targetkan 5,7 persen. Yang diperlukan ada penambahan investasi hingga Rp 150 triliun. Kalau investasi naik, maka akan membuka lapangan pekerjaan lebih luas lagi," harapnya.

Sementara itu, tingkat inflasi di Jawa Timur pada kuartal yang sama tahun ini berada di 1,96 persen. Inflasi ini mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu 3,08 persen.

"kita akan terus berjuang mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan inflasi serendah mungkin," tandasnya.

 Sumber:

  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.